Bergantung Stimulasi

Ketika batita meminta minum dengan mengatakan, “num…” kita sebaiknya merespons dengan menjawab, “Oh, Adik minta minum?” dengan menekankan pada kata “minum”. Sering kali, yang dilakukan kita adalah langsung mengambilkan minum tanpa menunjukkan pengucapan kata “minum” yang benar. Atau, justru mengucapkan kata-kata yang sama cadelnya, seperti, “Num cucu ya, Dek?”

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Bicara Vs Kata

Perkembangan bicara setiap batita me mang bisa saja berbeda. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah stimulasi dari orang-orang di sekitarnya. Motivasi dan semangat orang-orang di sekitar untuk mengajak batita bicara dan berinteraksi juga sangat berperan dalam menambah perbendaharaan kata si batita. Banyak orang dewasa beranggapan bahwa tidak penting mengajak anak Berkomunikasi Sejak Bayi Karena Toh Ia Baru Bisa Menangis Dan Tidak Mengerti Apa Yang Kita bicarakan.

Mereka beranggapan akan terlihat bodoh bila berbicara kepada bayi karena pembicaraannya hanya satu arah. Stigma bahwa bayi tidak mengerti jika diajak bicara ini sangat merugikan bagi proses bicara di usia batita kelak. Padahal, sejak dalam kandungan sebenarnya anak sudah bisa mulai distimulasi dengan mengajak bica ra. Lalu, setelah lahir, kita dapat mengajaknya berinteraksi meskipun ia hanya merespons dengan kontak mata dan senyum.

“Mengenalkan bendabenda yang ada di sekitarnya atau me ngenalkan dengan orang-orang yang menggendongnya merupakan stimulus yang akan terekam oleh anak dan akan menjadi perbendaharaan kata yang membantunya dalam belajar berbicara nantinya,” ujar Ika. Ika mengatakan, bahkan beberapa orangtua menganggap bahwa batita cukup distimulasi dengan layar, alias menonton televisi atau DVD kartun, serta bermain gawai (gadget). Padahal aktivitas tersebut tidak efektif untuk membantunya belajar berbicara.

Bahkan, bisa jadi anak meniru cara bicara yang salah dari tokoh dalam acara televisi atau film yang ditontonnya. “Komunikasi dua arah tetap yang terbaik,” tegas Ika. Melalui cara ini, Mama Papa bukan hanya mengajarkan cara bicara tetapi juga kata-kata yang baik untuk si kecil. Fira mengatakan, salah satu teman kantornya pernah sangat terkejut ketika anaknya yang berusia 2 tahun 5 bulan mengucapkan kata “brengsek” meskipun pengucapannya belum jelas. Usut punya usut, ternyata ketika ditinggal dengan babysitter di rumah, ia kerap diajak ikut menonton sinetron di televisi.

Sumber : pascal-edu.com

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *