Diyakini Bisa untuk Mengobati Parkinson

Ketika salah satu sel dominan itulah chip akan langsung memancarkan sinar dan menyeimbangkan keduanya. Penemuan ini barulah langkah awal. Pada masa mendatang cara ini bisa dipakai untuk mengobati penyakit parkinson. Pada penderita parkinson, amigdale memproduksi banyak hormon dopamin yang tak bisa diserap oleh sel karena sel reseptornya rusak. Hormon dopamin tersebut kemudian berkeliaran di luar sel, menciptakan rangsangan lain, dan mengganggu gerak. Penanaman chip bisa mentransgenikkan amigdale dan memberi reseptor khusus. Setelah itu, pemberian sinar bisa meredam gerakan yang terangsang akibat hormon dopamin yang berkeliaran tersebut.

Fungsi penanaman chip ini bisa diberikan untuk meredam produksi dopamin atau menggantikan reseptor yang rusak guna menyerap dopamin. Untuk menanam chip di otak tak perlu dilakukan pembedahan kepala. Chip yang berbentuk kabel dengan ukuran 2-3 mikrometer ini bisa masuk melalui pembuluh darah. Kalaupun diperlukan pembedahan, lukanya sangat kecil. Baterai untuk chip bisa ditanam di bawah kulit kepala. Tebalnya hanya dalam hitungan milimeter. ”Chip-nya tak akan terlihat dengan mata telanjang,” kata Ikrar. Penelitian ini masih harus melewati tiga tahap untuk diujicobakan pada manusia. Meski begitu, Ikrar optimistis metode optogenetik akan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Nizar Yamanie, Kepala Pusat Penelitian Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), menyambut baik hasil penelitian Ikrar ini.

Nizar mengatakan kecemasan yang berlebihan akan mempengaruhi organ tubuh lain. Ditemukannya pusat stres pada otak dan cara mengendalikannya sangat bermanfaat bagi manusia. RSPON juga akan melakukan penelitian tentang otak manusia, terutama perubahan neurotransmitter pada pecandu narkotik. ”Dokter Ikrar akan bergabung,” kata Nizar. Konsultan senior di RSPON, Silvi Francina Lumempouw, mengatakan intervensi dengan metode optogenetik akan lebih berfokus mengatasi stres pada manusia. Selama ini untuk menekan pemicu stres manusia masih harus menelan obat berupa tablet. ”Tablet masuk ke seluruh pembuluh darah manusia dan pasti ada efek sampingnya. Optogenetik bisa meminimalkan atau meniadakan efek samping itu,” kata Silvi. Ia berharap penelitian lebih lanjut bisa dilakukan agar bisa diterapkan pada manusia.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *