Live Painting Atau Metaekologi Kedua Bag8

Dalam ruang terbuka itu, seandainya ada kesengajaan, tidak mudah menyedot perhatian penonton pada cat dan air yang meleleh di kanvas, di tubuh penari. Perhatian pada cat meleleh itulah yang ditangkap oleh Mark Swed. Karena itu, ia menganggap Sardono adalah ”Pollock from Jakarta”. Mungkin memang begitu dalam Rain Coloring Forest. Dalam Live Painting, Sardono hanya bagian dari seluruh ”benda” yang disebut pertunjukan; hanya ia keluar-masuk, tidak ”menempel”.

Ia, menurut tangkapan saya, menjadi hal yang ”kebetulan” dan membuat ”benda” itu menjadi tak membosankan ditongkrongi, seperti juga ketika cahaya matahari membentuk bayang-bayang penari pada kanvas. Live Painting seolah-olah bagian sehari-hari dari seluruh kompleks Taman Warisan. Melayu, seperti juga Istana Kampong Glam dan pohon-pohon di halamannya serta orang-orang yang lalu-lalang.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.