Pembongkaran Gedung G

Bonnet dan kawan-kawan biasa menyebut Zidane sebagai ”le beau gosse” atau anak tampan. Bocah yang sangat sopan itu amat menonjol begitu bermain di lapangan. ”Suatu kali kami bertanding dengan AS Foresta dan menang 11-0. Tujuh gol di antaranya dicetak Zidane,” ujar pria kelahiran 1971 ini. AS Foresta adalah klub tetangga SO Septemes-les-Vallons. Zidane berlatih di SO Septemes-les-Vallons selama setahun. Pada usia 14 tahun, saat ia mengikuti program pelatihan di Aix-en-Provence, bakatnya terendus klub AS Cannes. Zidane bergabung dan berhasil menembus tim utama pada usia 17 tahun. Saat ia mencetak gol perdana, presiden klub itu menghadiahinya sebuah mobil Clio berwarna merah.

Website : kota-bunga.net

Di klub itu pula Zidane mulai mampu memukau dunia, termasuk saat memamerkan gerakan ala roulette. Ketika membawa bola dan dihadang lawan, ia tiba-tiba bisa memutar tubuh 360 derajat dengan tetap menguasai bola di kaki dan kemudian meneruskan aksi dribbling-nya. Gerakan seperti itu lantas seperti menjadi ciri khasnya dan berkali-kali ditunjukkan sepanjang kariernya, sehingga kerap disebut Zidane turn, meski sebelumnya juga dipraktekkan Diego Maradona dan Johan Cruyff. Setelah di Cannes, petualangan sang gelandang berlanjut di Bordeaux, Juventus (Italia), dan Real Madrid (Spanyol). Di keempat klub itu, Zizou panggilannya meraih total 13 gelar juara. Dalam rentang 18 karier bermainnya, ia juga memperkuat tim nasional Prancis 108 kali dengan menyumbangkan 31 gol.

Kariernya di tim nasional terbilang lengkap karena bisa merebut gelar juara Piala Eropa dan Piala Dunia, meski ujung kariernya sempat diwarnai noda. Pada laga terakhirnya bersama tim nasional, dalam partai final Piala Dunia 2006 di Berlin, Jerman, Zidane mendapat kartu merah akibat menanduk dada pemain Italia, Marco Materazzi, yang menghina ibunya. Bonnet hanya menyaksikan sepak terjang mantan rekan setimnya itu dari jauh. Ia terakhir kali bertemu dengan Zidane delapan tahun lalu ketika terlibat dalam pertandingan persahabatan untuk mengumpulkan dana bagi kegiatan donor darah di kota pesisir Fos-sur-Mer. ”Kami hanya bisa iri tapi ikut bahagia atas keberhasilannya. Saya dengar dia membelikan rumah bagi seluruh keluarganya di Les Pennes-Mirabeau, daerah perbukitan yang asri tak jauh dari Marseille,” ujarnya. Zidane adalah anak terkecil dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya, Smail dan Malika Zidane, datang ke Prancis dari Kabylie, bagian utara Aljazair, pada 1953.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *