Rambut Emas Jadi Motivasi Hanifan

JAKARTA — Hanifan Yudani Kusumah, atlet silat kelas C putra Asian Games, punya cara unik untuk meningkatkan rasa percaya diri. Ia selalu mengecat rambutnya. “Suka karena gaya, keren, dan pengen beda dari yang lain,” kata Hanifan saat ditemui seusai latihan di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa lalu. Saat ini ia mengecat rambutnya dengan warna kuning keemasan. Ia juga menyukai model gaya rambut mohawk dan undercut. “Saya tidak meniru siapasiapa,” ujarnya. Menurut dia, warna rambut kuning keemasan dimaknai sebagai prestasi gemilang. “Menandakan saya sudah yakin dan siap menghadapi siapa pun lawan nanti,” katanya. “Menurut saya, gaya sangat penting untuk kenyamanan bertanding,” tuturnya.

Kegemaran mewarnai rambut sudah ia lakukan saat masih menjadi pesilat junior. Hanifan adalah pesilat dari perguruan Tadjimalela. Ia atlet silat yang kini berusia 20 tahun. Pria kelahiran Bandung, 25 Oktober 1997, itu sudah mengoleksi enam medali emas dari kompetisi internasional. Adapun prestasi terakhir di Belgia Open, ia mendapat dua medali emas. Sedangkan di Malaysia Open, tiga medali emas. Kemudian di Kejuaraan Pencak Silat for The World: The 17th World Championship and Festival di Bali pada 2016, ia memperoleh satu medali emas. Silat akan menjadi cabang olahraga unggulan untuk mendapatkan medali emas dalam Asian Games 2018. Pelatih tim pencak silat Indonesia, Rony Syaifullah, mengatakan atlet Indonesia secara teknik lebih mumpuni dibanding atlet negara lain, karena Indonesia menjadi sumber materi silat. Menurut Rony, selain mengejar target medali emas, perhelatan Asian Games akan mengangkat pencak silat ke kancah internasional.

Ia pun berharap silat juga bisa menembus Olimpiade. “Ini tonggak pencak silat bisa naik tingkat sejajar dengan karate dan taekwondo,” ujarnya. Rony mengatakan, silat sebagai seni bela diri merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia. Menurut dia, silat terus berkembang dari masa lampau sampai sekarang. “Dulu silat sebagai perjuangan saat zaman penjajah, sekarang perjuangan untuk mencapai prestasi,” kata pesilat dari perguruan Tapak Suci itu. Saat ini Rony mengemban amanat untuk mengasah kemampuan 22 atlet nasional untuk bertanding dalam Asian Games 2018. Adapun atlet laki-laki berjumlah 13 orang. Sedangkan atlet perempuan sembilan orang. “Usia atlet dari 19 tahun sampai 29 tahun,” tuturnya. Menjelang digelarnya Asian Games, para pesilat memasuki tahap latihan untuk menjaga kebugaran dan menumbuhkan semangat juara. “Ini tinggal menjaga mental, taktik, strategi,” ujarnya. Ia bersama para atlet asuhannya tidak ingin lengah memanfaatkan kesempatan berharga pencak silat pertama kalinya dalam Asian Games. “Tetap waspada kontrol emosi maksimal, ini perlu kami atur. Jangan sampai euforia itu tidak mencapai grafik,” katanya

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *